Senin, 21 Juni 2010

Hasil Otopsi The Rev


The Rev meninggal pada tanggal 28 Desember 2009 dan membuat penggemar Avenged Sevenfold terkejut. Semua tidak menyangka dengan kematiannya.

Setelah menunggu kabar otopsi dari pihak berwajib mengenai penyebab kematian The Rev, akhirnya dilakukan konfirmasi dari Orange County Deputy Coroner oleh Mitchell Sigal bahwa The Rev meninggal karena overdosis obat terlarang dan alkohol. Dalam peperikasaan yang dilakukan pada jenazah The Rev ditemukan beberpa zat yang berbahaya seperti Oxycodone, Oxymorphone, Diazepam / Nordiazepam dan etanol.

Oxycodone adalah penghilang rasa sakit yang pengganti Kodein, Oxymorphone adalah obat penghilang rasa sakit mirip dengan morfin, Diazepam / Nordiazepam adalah obat kecemasan dan etanol adalah minuman keras dalam alkohol. Dalam penyelidikan juga ditemukan bahwa hati The Rev juga mengalami pembesaran yang tidak wajar.

Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat
http://www.rollingstone.com/music/news/17386/112469

Info Album Baru


Setelah beberapa kali terjadi kesalahpahaman tentang single terbaru Avenged Sevenfold, akhirnya diumumkan secara resmi di situs resmi Avenged Sevenfold tentang lagu Nightmare. Tetapi hanya berdurasi 30 detik saja.

Wawancara Avenged Sevenfold Di Hard Drive Radio :
Avenged Sevenfold akan melakukan sesi wawancara di Hard Drive Radio. Dalam wawancara itu membahas single baru mereka dan bagaimana Avenged Sevenfold sepeninggal sang drummer, Jimmy “The Rev” Sullivan. seperti yang dikutip di situs harddriveradio.com.

Today in the hardDrive studios, Avenged Sevenfold in their first national radio interview since the death of James “The Rev” Sullivan. I can not wait to see the guys, give them a group hug.


Dan ini wawancara ttg album "NIGHTMARE" di hard drive radio juga :
Seperti dalam posting terdahulu yang membahas rencana wawancara Avenged Sevenfold di HardDrive Radio, kali ini merupakan hasil dari wawancara tersebut.

Dalam wawancara itu Avenged Sevenfold diwakili oleh M. Shadows dan Synyster Gates. Album yang diberinama “Nightmare” tersebut akan segera dirilis dimana proses mixing dibantu oleh Andy Wallace.

Album tersebut didedikasi kan kepada The Rev.Yang menjadi sorotan adalah lagu berjudul “Fiction” (judul yang diberikan oleh The Rev sendiri) dan lagu pertama berjudul “Death”, itu adalah lagu terakhir yang dia tulis dan saat menyerahkan lagu tersebut dia mengatakan “Itu saja” dan itu merupakan lagu terakhir untuk proses rekaman ini. Tiga hari kemudian dia meninggal. Sebagian besar lagu sadah selesai di mixing oleh Andy Wallace. Untuk video wawancaranya akan menyusul dilain waktu

“The new album, “Nightmare,” is dedicated to his memory and although it’s not exactly a concept album, it does center around The Rev. The eeriest thing about it is there is a song on the album called “Fiction” (a nickname The Rev gave himself) which started out with the title “Death.” And the song was the last song The Rev wrote for the album, and when he handed it in, he said, that’s it, that’s the last song for this record. And then 3 days later, he died. The guys have been in town mixing the album and are almost half completed with Andy Wallace. Meanwhile, watch for a video interview with Matt on our website, coming soon”

Minggu, 26 Oktober 2008

Karir Album Baru


Bukan tugas mudah bagi AVENGED SEVENFOLD dalam menanggung beban atas keberhasilan mereka menjadi salah satu newcomer band papan atas internasional yang sukses sekarang ini.

Dan semuanya harus ditunjukkan dalam album terbaru mereka dengan catatan harus mencapai keberhasilan yang lebih baik dari rilisan sebelumnya, “City of Evils“� di tahun 2005 dimana kali ini mereka mendesain lagu sedemikian rupa di sela-sela padatnya jadwal tur untuk tampil di belahan benua termasuk manggung di Indonesia dan Thailand baru-baru ini.

Jalan yang paling singkat mungkin adalah dengan membuat lagu yang terdengar lebih komersil atau lebih familiar di pasar mainstream. Dan AVENGED SEVENFOLD sangat mengamini kondisi tersebut. Lihat saja bagaimana mereka sadar untuk tidak ingin menentang market yang telah mereka peroleh.

Itu sebabnya album ini seperti sekuel “City of Evil“� dimana kekuatan utama AVENGED SEVENFOLD masih pada duet gitaris Synister Gates dan Zacky Vengeance serta warna vokal M. Shadows yang mendapat pengaruh utama dari Axl Roses (GUNS N’ ROSES) dan Phil Anselmo (PANTERA), apalagi di single kedua, Scream. Tidak ada konstruksi berarti pada perubahan lagu kecuali corak musik yang mengarah pada heavy metal.

Namun sebelum saya mendengar musik mereka dengan lebih seksama, saya justru berpendapat kalau band ini sebenarnya telah berada di ujung ambang ide dan kreativitas.

Dimulai dengan kebingungan mereka dalam memilih judul album, kemudian kover album yang sangat sederhana tinggal membalikkan warna dari kover album kedua, “Waking the Fallen“� hingga tidak ditemukannya progress musik yang lebih baik.

Okay, sebut saya terlalu naif dengan menganggap mereka telah kehabisan ide atau tumpul kreatifitas. Lantas apakah dulangan popularitas dan cahaya uang menjadi faktor utama agar mereka terpaku di “City of Evil“?

Yah, mereka tentu saja tidak ingin mengambil resiko keluar dari jalur eksploitasi ini. Bisa-bisa malah karir mereka yang terbunuh dengan cepat nantinya.

Sebagai pembuka ada single awal Critical Acclaim dengan menempatkan instrumen organ sebagai intro. Lagu yang langsung menunjukkan style musik mereka untuk mengingatkanmu pada satu album sebelumnya. Hanya kali ini dengan sedikit lebih epic.

Anyway, secara keseluruhan sebenarnya saya berpendapat album ini tidak sebaik “City of Evil“�. Ini telah saya sampaikan sebelumnya di awal tulisan. Banyak lagu-lagu dengan bagian lebih lembut termasuk Gunslingerâ yang diawali irama akustik. Bedanya disini lebih banyak mendapat bantuan vokalis wanita yang salah satunya ada Shanna Crooks.

Satu-satunya yang membuat saya sedikit lebih lega adalah durasi lagu mereka yang kali ini terbilang normal kecuali pada A Little Peace of Heaven yang sebenarnya justru membutuhkan banyak waktu untuk membicarakan surga dengan durasi lebih dari delapan menit sekaligus menjadi yang terpanjang.

A Little Peace of Heaven pun terdengar seperti satu karangan fiksi murid sekolah dasar tentang bagaimana setiap orang saling bunuh untuk tanpa alasan dimana pada awalnya mereka hidup bersama.

Sementara di lagu terakhir ada ‘Dear God‘ yang merupakan satu balada yang sepertinya mirip dengan apa yang telah mereka buat pada Seize the Day namun dengan format yang lebih lembut dan lebih membosankan.

Overall, setuju atau tidak setuju saya tetap berpendapat album ini adalah bukti dari tumpulnya ide mereka dalam menulis lagu termasuk lirik. Bahkan saya rasa inilah album mereka yang paling buruk.

Bisa jadi AVENGED SEVENFOLD terlalu tumpul dari konsekuensi padatnya jadwal manggung yang bukan untuk wilayah Amerika saja serta tentunya tekanan dari pihak major label bagi band ini.

Tidak ada alasan bagi major label untuk tidak segera melakukan eksploitasi pada mereka. Namun jika kalian adalah fans baru Shadows dkk, silahkan kalian bersuka ria karena kalian belum mendengarkan album-album AVENGED SEVENFOLD sebelumnya.


Rilis : 30 Oktober 2007
Origin : California, US
Style : Heavy Metal
Label : Warner Bros Records
Official Website : avengedsevenfold.com
For Fans : ATREYU, BULLET FOR MY VALENTINE, TRIVIUM, GUNS N’ ROSES


01. Critical Acclaim
02. Almost Easy
03. Scream
04. Afterlife
05. Gunslinger feat Shanna Crooks
06. Unbound (The Wild Ride) feat Zander Ayeroff dan Annmarie Rizzo
07. Brompton Cocktail
08. Lost
09. A Little Piece of Heaven feat Juliette Commagere
10. Dear God feat Shanna Crooks

Sumber : berontakzine.com

Biografi A7X


Avenged Sevenfold adalah grup musik heavy metal yang dibentuk di Huntington Beach, California pada 1999. Personelnya terdiri atas M. Shadows (vokal), Synyster Gates (lead guitar), Zacky Vengeance (guitar), Johnny Christ (bass), dan The Reverend (drum). Serta dua mantan personelnya Dameon Ash dan Justin Sane yang telah hengkan dari grup ini.

Album pertama Avenged Sevenfold berjudul Sounding the Seventh Trumpet (2002), disusul album kedua Waking the Fallen (2003). Dalam album kedua grup ini tampil bersama Xl Rose, Kylie Minogue dan Chris Cornell. Disusul kemudian album City of Evil (2005) dan Avenged Sevenfold (2007).

Grup yang pernah mangung di Jakarta pada 7 Agustus 2007 itu, belakangan memilih jalur musik pop. Hal ini, konon setelah menuai kritik akibat banyak karyanya 'mengadopsi' effec suara yang telah hit sebelumnya. Mereka mengaku heavy metal tidak cocok bagi dirinya, dan lebih menyukai musik pop.

Rabu, 22 Oktober 2008

Konser Avenged Sevenfold, Biasa Tapi Istimewa


Jakarta Biasa tapi istimewa, kalimat yang tepat untuk menggambarkan hasil keseluruhan konser Avenged Sevenfold di Indonesia. Tak ada yang spektakular memang tapi mereka sangat istimewa.

Konser di Tennis Indoor Senayan, Selasa (7/8/2007) dibuka dengan penampilan band trio asal Yogyakarta, Endank Soekamtie. Mereka membawakan sekitar 5 hits andalannya.

Setengah jam istirahat, panggung baru dimeriahkan oleh Avenged Sevenfold alias A7X. Aksi Matthew Shadows (vokal), Synyster Gates (gitar), Zacky Vengeance (gitar), Johnny Christ (bass) dan The Rev (drum) sungguh memikat.

Menjelang lagu ketiga, 'Burn it Down', Matthew menyempatkan diri menyapa pecintanya di Indonesia. Sepanjang konser mereka memang tak banyak bicara, A7X hanya berkomunikasi lewat lagu-lagunya.

"Kita terima banyak email dan surat dari Indonesia sejak tahun 1999. Jadi saya pikir Indonesia pasti tahu lagu-lagu kami, bagaimana dengan yang ini," ujar Matthew. Sesaat kemudian lagu 'Unholly Confessions' pun melantun.

Di lokasi konser tak lagi terlihat tempat penjualan tiket, karena sejak awal memang sudah sold out. Para calo tiket pun terbilang sangat langka. Namun penjagaan jadi super ketat dibanding konser lainnya. Untuk sampai ke tempat pertunjukan, ada 4 gerbang yang harus dilewati penonton. Masing-masing gerbang dilengkapi penjagaan ketat untuk memeriksa tiket dan barang-barang yang dibawa penonton.

Konser berjalan mulus. Bisa dibilang penampilan A7X sangat biasa. Mereka tak banyak basa-basi ataupun unjuk kebolehan. Tapi penonton nyatanya terpuaskan dengan hal tersebut. Mereka terus berjingkrak dan berteriak sepanjang konser diselenggarakan.

Bahkan penonton di kelas festival memilih untuk berdiri ketimbang duduk manis. Lantunan lagu-lagu A7X yang tergolong musik "keras" pun tak luput mereka dendangkan. Giliran lagu "sedikit" mellow muncul spontan mereka melambaikan tangan dan menyalakan lampu HP saat lampu meredup.

Banyak musisi Indonesia yang ikut ambil bagian menonton konser ini. Sebut saja Ernest 'Cokelat' yang ditemani kekasih barunya Nirina Zubir, Desta 'Clubeighties', Eno 'Netral', J-Rock, Saint Loco, Seurieus, Tere dan banyak lagi
sumber : www.detikHot.com

Rabu, 19 September 2007

Avenged Sevenfold Cari Tato Indonesia


Apakah rock star Amerika identik dengan tato? Avenged Sevenfold alias A7X sepertinya begitu. Walau telah punya banyak tato di seluruh tubuhnya mereka berencana membuat tato di Indonesia.Entah berapa jumlah tato yang dimiliki oleh M. Shadows (vokal), Synyster Gates (gitar), Zacky Vengeance (gitar), Johnny Christ (bass) dan The Rev (drum). Namun mereka mengaku tak mutlak bagi musisi untuk punya tato."Kita tak menganjurkan seorang musisi rock harus punya tato. Ini sejak muda kita udah buat tato, bukan karena kita rock star," ujar Johnny ketika berbincang dengan detikhot saat berbincang di CJ's Bar Hotel Mulia, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (6/8/2007) siang.Sang vokalis, Matt pun berpendapat sama. Tentu saja kualitas bermusik seseorang tak diukur dari berapa banyak ia punya tato. Tapi bicara soal tato, Johnny yang mengaku belum pernah mendengar soal budaya Indonesia ingin mencoba membuat tato di Indonesia."Ya mungkin saya harus mencobanya. Saya akan mencarinya tapi mungkin belum tahu gambar apa. Akan saya pikirkan nanti," tandas Johnny diiringi senyumnya.Bagaimana dengan masalah narkoba juga wanita? Apakah A7X kerap mendapat masalah dengan 2 hal itu?"Kita berlima besar bersama dan kita teman SMU yang sama. Jujur, kita hang out dan bersenang-senang bersama. Tapi saat kita di band, kita serius. Tapi kita tak terjerumus yang begitu," tutup Johnny.

History of A7X


Avenged Sevenfold atau lebih dikenal sebagai A7X atau Sevenfold, didirikan oleh Zacky Vengeance (gitar) dan M. Shadows (vokal), ketika mereka masih SMA di Orange County. Kemudian mereka mengajak The Reverend Tholomew Plague (drum), dan mereka merilis demo pada tahun 1999
Perilisan demo awal pada tahun 1999, sehingga ditetapkan sebagai tahun lahirnya Avenged Sevenfold. Pada tahun 2002 mereka kembali merilis Sounding The Seventh Trumpet yang sebelumnya pernah dirilis pada tahun 2001, dimulai dengan Masuknya Synyster Gates (gitar) pada trek prtama pada album Sounding the Sevent Trumpet.
Lalu mereka menjalin kerjasama dengan Hopeless Records, dan merilis Waking the Fallen, dengan mengeluarkan hits Mainstream, Unholy Confessions. Album ini mendapat dukungan yang tinggi dari
The Rolling Stones.
sumber : id.wikipedia.org